Sunday, April 2, 2017

National Elektronik kali ini memberikan tips cara menghitung kebutuhan AC untuk ruangan anda karena masih banyak sekali customer kami yang tidak tahu cara menghitung penggunaan kapasitas AC untuk ruangan mereka dan hanya mengira-ngira saja berapa PK kebutuhan AC untuk ruangan tersebut.
Rumus menghitungnya ada 2. Ada yang lebih njelimet, ada yang lebih simple.
Rumus pertama cara menghitung kebutuhan ac yang ngejelimet adalah seperti ini:
(Panjang x Lebar x Tinggi Ruangan x Faktor 1 x 37) + (Jumlah orang x Faktor 2)
Angka Faktor 1 adalah: untuk kamar tidur = 5, untuk kantor atau living room = 6, dan untuk restoran atau salon atau warnet atau mini market = 7
Angka Faktor 2 adalah: untuk orang dewasa = 600Btu, untuk anak-anak = 300Btu
Oke kita akan lihat contohnya:
untuk ruangan kamar tidur panjang 3m, lebar 3m dan tinggi ruangan 2.5m, dan akan ditinggali oleh 2 orang dewasa misalnya. Perhitungannya jadi seperti ini:
(3 x 3 x 2,5 x 5 x 37) + (2 x 600)
= 4.162,5 + 1.200
= 5.362,5 Btu
Ribet kan?
Rumus kedua untuk menghitung kebutuhan ac jauh lebih simple, dan rata-rata lebih umum digunakan untuk menghitung kebutuhan AC walaupun tidak se-akurat rumus pertama. Rumus kedua ini hanya panjang ruangan dikali lebar ruangan dikali 500Btu.

Contoh: ruangan 3m x 3m = 9m2 x 500Btu = 4.500Btu.
Nah berarti untuk mendinginkan ruangan sebesar 3m x 3m dibutuhkan MINIMAL AC 1/2 PK karena AC 1/2 PK memiliki BTU sebesar 5000.
Kemudian ada dilema dan kesalahan yang paling sering dilakukan oleh para customer kami.
Apabila besar ruangan adalah 3m x 4m, maka jumlah Btu yang dibutuhkan adalah (12 x 500) = 6.000Btu. Angka ini adalah salah satu angka keramat dan salah satu besar ruangan yang paling lazim untuk kamar tidur selain 3m x 3m.
AC 1/2PK memiliki Btu 5000, AC 3/4PK memiliki Btu 7000, nah untuk ruangan 3m x 4m, Btu yang dibutuhkan adalah 6.000, jadi mau pake AC yang mana? 1/2 atau 3/4PK?
Jawabannya….. tentu saja 3/4PK, dan bukannnnn… bukan karena penjual maunya untung lebih banyak dengan menjual AC yang lebih mahal harganya. Karena sebenarnya untung toko kami menjual AC 1/2 atau 3/4 PK sama saja. tidak serta merta kami jual AC yang lebih mahal kemudian untung kami juga lebih banyak, SALAH!
Ini adalah alasan kenapa ruangan 3×4 harus menggunakan AC 3/4PK, walaupun kalau pake AC 1/2PK ruangan juga tetap masih bisa dingin walau waktu yang dibutuhkan akan jauh lebih lama.
1. Kalau anda tetap memakai AC 1/2 PK, ya ruangan tetap bisa dingin tapi AC tersebut harus bekerja 100% dengan Kecepatan Fan maksimum dan suhu remote 16 derajat misalnya baru ruangan bisa terasa dingin, terutama di siang hari apalagi bila di kamar tersebut ada jendela yang menghadap barat dimana sinar mentari siang menuju sore sedang panas-panasnya, AC tersebut pasti tidak tahan lama karena kinerja kompressor yang harus terus harus maksimal. Ini pun akan berdampak pada konsumsi listrik yang semakin boros karena kompressor akan lebih banyak hidup daripada mati. Dan pada saat kompressor menyala konsumsi listrik sebesar PK AC akan terus terkonsumsi (contoh 1/2PK konsumsi listriknya 400Watt atau 320 Watt untuk tipe Low Watt)
2. Kalau anda memakai AC 3/4 PK, anda cukup menggunakan kecepatan Fan 1, suhu remote 22 derajat dan ruangan sudah terasa dingin. Ini akan berdampak langsung pada konsumsi listrik AC tersebut, walaupun AC 3/4PK menggunakan listrik sebesar 600 Watt atau 530 Watt untuk tipe Low Watt tetapi kompressor akan lebih sering mati dan tidak perlu bekerja maksimal sehingga akan memperpanjang umur AC itu sendiri.
3. Perbedaan harga AC 1/2 PK dan 3/4 PK hanya 100 ribu Rupiah. Bukannya beda sampai 500 ribu. Jadi tidak ada alasan lain untuk ruangan 3 x 4 anda masih menggunakan AC 1/2PK. Memang di depan anda berhemat 100 ribu, tapi dalam bulan berjalan pemakaian listrik anda kami jamin akan lebih hemat bila anda menggunakan AC 3/4 PK apalagi bila dinyalakan ber jam-jam setiap harinya. Saya sendiri masih memiliki batita umur 1 tahun yang dimana AC di ruangan dia harus menyala hampir 24 jam sehari plus ada jendela besar yang menghadap ke barat. Jadi panas banget kalo pas siang menuju sore. Setelah saya memakai AC 1/2 PK, saya mengganti AC ruangan tersebut dengan AC 3/4PK. Pemakaian AC 3/4 PK benar – benar menghemat pembayaran listrik rumah saya dibandingkan dengan AC 1/2 PK (bukan promosi, hanya menceritakan pengalaman pribadi)
Contoh berikutnya adalah bila ruangan anda besarnya 4m x 4m… Btu yang dibutuhkan adalah 16 x 500 = 8.000Btu… AC 3/4PK Btu-nya 7000, AC 1PK Btu-nya 9000…. Jadi pake AC yang manaaaaaa…. silakan dijawab sendiri 🙂
Pokoknya yang perlu diingat:
AC 1/2  PK Btu ~ 5000
AC 3/4  PK Btu ~ 7000
AC 1      PK Btu ~ 9000
AC 1.5   PK Btu ~ 12.000
AC 2     PK Btu ~ 18.000
AC 2.5  PK Btu ~ 24.000
Nah bila Btu yang dibutuhkan adalah 13.000 – 14.000 AC 1.5 PK masih cukup untuk mendinginkan ruangan tanpa terlalu membebani kinerja kompressor. Namun bila Btu yang dibutuhkan ruangan sudah diatas 14.000 maka saran kami dibutuhkan AC 2 PK dengan Btu 18.000 agar pemakaian listrik lebih hemat dan kinerja kompressor tidak terlalu berat.
Rumus perhitungan kami berlaku untuk ruangan dengan tinggi langit-langit ruangan standard ya, yaitu sekitar 2.5 – 3m. Diatas itu setiap meter ketinggian eternit / langit-langit akan dibutuhkan 1000 Btu lagi.
Kemudian Rumus tersebut diatas juga berlaku untuk penggunaan pipa standard sampai dengan 10 meter. Bila contoh AC 1/2 PK tapi berhubung jarak indoor dan outdoor harus mencapai 13 atau 15 meter bahkan (hal ini biasa terjadi bila ada pemasangan AC di ruko dimana unit indoor berada di lantai 1, unit outdoor ada di dak atas lantai 4) maka kami menyarankan agar PK AC dinaikan menjadi 3/4 PK atau bahkan 1 PK bila ruangannya juga terdapat jendela besar dan terpapar sinar matahari langsung.
Nah bila anda ingin menggunakan AC Inverter, pastikan Btu AC-nya lebih besar dari kebutuhan ruangan yah. Jadi contoh bila ruangan kamar ukuran 4×5 kan kebutuhan ruangan 10.000 Btu. Kami sungguh sangat menyarankan penggunaan AC Inverter 1.5PK dibanding 1PK. Mengapa? Karena kalau kita melihat cara kerja AC Inverter dimana bila suhu ruangan sudah sama dengan suhu remote maka Watt AC Inverter akan bisa turun ke Watt minimal, nah di ruangan 4×4 kalau kita pakai AC Inverter 1.5PK kan akan lebih cepat tercapai, dan kinerja kompressor tidak perlu ngoyo mencapai suhu yang diinginkan misalnya 24 derajat atau 23 derajat. Watt AC Inverter akan bisa lebih cepat mencapai watt minimalnya yang tentunya akan berimbas langsung dengan konsumsi listrik rumah/kantor anda.

Oke kira – kira begitulah cara menghitung kebutuhan AC untuk ruangan anda.
Ditulis oleh eMHa On 6:47 PM No comments Baca selengkapnya...

Friday, March 10, 2017


Cara Penulisan Gelar Akademik yang Baik dan Benar



Penulisan gelar menurut EYD sering kali salah dala prakteknya, untuk menambah pengetahuna kita tentang penulisan gelar, berikut saya coba rangkum dalam tulisan ini .
Kebanyakan kesalahan terdapat pada penempatan tanda titik, misalnya :
Hasbullah Jaini, SE      (salah)
Hasbullah Jaini, S.E.   (benar)
Hasbullah Jaini, SH, MM       (salah)
Hasbullah Jaini, S.H., M.M.  (benar)
Untuk lebih memahami bagaimana penulisan gelar yang baik dan benar sesuai dengan EYD, silahkan simak tulisan berikut.
Penulis    : Dr. Warsiman, M.Pd.
Kendati hanya persoalan kecil, tetapi kebanyakan orang tidak memahami penulisan gelar yang benar. Penulisan gelar sejatinya tidaklah sesulit yang dibayangkan, tetapi juga tidak segampang yang sering dilakukan oleh kebanyakan orang.
Berdasarkan aturan kebahasaan, penulisan gelar termasuk kategori pemahaman tentang singkatan. Singkatan adalah kependekkan yang berupa huruf atau gabungan huruf, baik dilafalkan huruf demi huruf maupun dilafalkan sesuai dengan bentuk lengkapnya.  Selain itu, dalam buku pedoman umum ejaan yang disempurnakan (EYD), penulisan gelar juga   secaraintens disinggung, bahkan disertai beberapa contoh penulisan yang benar. Namun demikian, masyarakat masih saja banyak yang belum memahami dengan baik teknik penulisan gelar yang benar.
Sekarang, marilah kita analisis tentang penulisan gelar ini, agar kita tidak lagi menemui kesulitan di kemudian hari.
Jika dianalisis kata per kata, penulisan gelar dapat dinalar melalui teori singkatan. Sebagai misal, penulisan gelar sarjana pendidikan, yang ditulis benar, Sarjana Pendidikan (S.Pd.), dan ditulis di belakang nama penyandang gelar. Huruf  “S“ pada kata sarjana, ditulis dengan huruf besar dan diakhiri dengan tanda titik, merupakan satu kata. Kemudian, huruf  “P” ditulis dengan huruf besar, tetapi huruf  “D”  ditulis dengan huruf kecil dan diakhiri dengan tanda titik. Huruf  “D”  ditulis dengan huruf kecil karena posisinya sebagai bagian dari rangkaian satu kata dengan huruf “P” yang merupakan kepanjangan dari kata “pendidikan”. Demikian pula singkatan-singkatan gelar lain yang sejenis dengan contoh tersebut, juga akan mengalami proses kebahasaan yang sama.
Lain halnya dengan singkatan pada gelar yang tanpa menyertakan huruf peluncur sebagai bagian dari rangkaian satu kata. Sebagai misal, penulisan gelar sarjana hukum, sarjana ekonomi, dan sarjana pertanian. Jika disingkat, ketiga contoh gelar tersebut hanya terdiri dari huruf awal, dan tanpa menyertakan huruf peluncur yang merupakan bagian dari rangkaian kata, sehingga penulisannya pun terdiri atas huruf per huruf serta masing-masing ditandai dengan tanda baca titik. Dengan demikian, penulisan gelar sarjana hukum, ditulis di belakang nama penyandang gelar dengan singkatan: S.H., sarjana ekonomi ditulis S.E., dan sarjana  pertanian ditulis S.P.. Penulisan-penulisan gelar lain yang sejenis dengan contoh tersebut, dan yang hanya terdiri dari dua huruf atau lebih tanpa disertai dengan huruf peluncur sebagai bagian dari rangkaian kata, harus mengikuti pola penulisan tersebut.
Berikut ini contoh-contoh penulisan gelar yang benar.
Gelar Sarjana
S.Ag. (Sarjana Agama)
S.Pd. (Sarjana Pendidikan)
S.Si.  (Sarjana Sains)
S.Psi. (Sarjana Psikologi)
S.Hum. (Sarjana Humaniora)
S.Kom. (Sarjana Komputer)
S.Sn. (Sarjana Seni)
S.Pt. (Sarjana Peternakan)
S.Ked. (Sarjana Kedokteran)
S.Th.I. (Sarjana Theologi Islam)
S.Kes. (Sarjana Kesehatan)
S.Sos. (Sarjana Sosial)
S.Kar. (Sarjana Karawitan)
S.Fhil. (Sarjana Fhilsafat)
S.T. (Sarjana Teknik)
S.P. (Sarjana Pertanian)
S.S. (Sarjana Sastra)
S.H. (Sarjana Hukum)
S.E. (Sarjana Ekonomi)
S.Th.K. (Sarjana Theologi Kristen)             
S.I.P. (Sarjana Ilmu Politik)
S.K.M. (Sarjana Kesehatan Masyarakat)
S.H.I. (Sarjana Hukum Islam)
S.Sos.I. (Sarjana Sosial Islam)
S.Fil.I. (Sarjana Filsafat Islam)
S.Pd.I. (Sarjana Pendidikan Islam), dsb.
Gelar Magister
M.Ag. (Magister Agama)
M.Pd. (Magister Pendidikan)
M.Si. (Magister Sains)
M.Psi. (Magister Psikologi)
M.Hum. (Magister Humaniora)
M.Kom. (Magister Komputer)
M.Sn. (Magister Seni)
M.T. (Magister Teknik)
M.H. (Magister Hukum)
M.M. (Magister Manajemen)
M.Kes. (Magister Kesehatan)
M.P. (Magister Pertanian)
M.Fhil. (Magister Fhilsafat)
M.E. (Magister Ekonomi)
M.H.I. (Magister Hukum Islam)
M.Fil.I. (Magister Filsafat Islam)
M.E.I. (Magister Ekonomi Islam)
M.Pd.I. (Magister Pendidikan Islam), dsb.
S.Th.K. (Sarjana Theologi Kristen)
Gelar Sarjana Muda Luar Negeri
B.A. (Bechelor of Arts)
B.Sc. (Bechelor of Science)
B.Ag. (Bechelor of Agriculture)
B.E. (Bechelor of Education)
B.D. (Bechleor of Divinity)
B.Litt. (Bechelor of Literature)
B.M. (Bechelor of Medicine)
B.Arch. (Bechelor of Architrcture), dsb.
Gelar Master Luar Negeri
M.A. (Master of Arts)
M.Sc. (Master of Science)
M.Ed. (Master of Education)
M.Litt. (Master of Literature)
M.Lib. (Master of Library)
M.Arch. (Master of Architecture)
M.Mus. (Master of Music)
M.Nurs. (Master of Nursing)
M.Th. (Master of  Theology)
M.Eng. (Master of Engineering)
M.B.A. (Master of Business Administration)
M.F. (Master of Forestry)
M.F.A. (Master of Fine Arts)
M.R.E. (Master of Religious Ediucation)
M.S. (Mater of Science)
M.P.H. (Master of Public Health), dsb.
Gelar Doktor Dalam Negeri
Penulisan gelar doktor dalam negeri pun sering tidak dipahami dengan benar oleh kebanyakan orang, padahal jika kita mampu menganalisis, tidaklah sulit untuk dapat menemukan jawabannya.
Penulisan gelar doktor dalam negeri sama dengan penulisan gelar-gelar yang lain. Karena huruf  “D” dan “R” merupakan rangkaian satu kata, maka penulisan gelar doktor yang benar adalah: Dr. (Doktor), dan ditulis di depan nama penyandang gelar. Huruf  “D” ditulis dengan huruf besar, dan huruf “R” ditulis dengan huruf kecil, dan diakhiri dengan tanda titik pula.
Selain itu, di Indonesia juga memberlakukan sebutan profesional untuk program diploma. Aturan main penulisan sebutan profesional dalam negeri untuk program diploma ditulis di belakang nama penyandang sebutan profesional tersebut. Perhatikan beberapa sebutan profesional program diploma dalam negeri sebagai berikut.
Program diploma satu (D1) sebutan profesional ahli pratama, disingkat (A.P.);
Program diploma dua (D2) sebutan profesional ahli muda, disingkat (A.Ma.);
Program diploma tiga (D3) sebutan profesional ahli madya, disingkat (A.Md.); dan
Program diploma empat (D4) sebutan profesional ahli, disingkat (A.).
Akhir-akhir ini sebutan profesional untuk program diploma, sebagaimana yang tertera itu, cenderung diikuti oleh ilmu keahlian yang dimiliki. Sebagai misal, sebutan profesional untuk ahli muda kependidikan disingkat A.Ma.Pd., ahli madya keperawatan disingkat A.Md.Per., ahli madya kesehatan disingkat A.Md.Kes., ahli madya kebidanan disingkat A.Md.Bid., dan ahli madya pariwisata disingkat A.Md.Par.
Selanjutnya, banyak orang bertanya-tanya tentang beberapa gelar doktor luar negeri yang tidak mereka pahami maksudnya, juga tidak mereka ketahui cara penulisannya, sehingga banyak diantara mereka hanya dapat memperkirakan maksud, dan demikian pula cara penulisannya. Karena berdasarkan perkiraan belaka, maka banyak diantara mereka salah menebak maksud serta cara penulisannya.
Penulisan gelar doktor, master, dan sarjana muda dari luar negeri, ditulis di belakang nama penyandang gelar. Sebagaimana penulisan gelar-gelar dalam negeri, penulisan gelar dari luar negeri pun sama. Untuk dapat memahami penulisan yang benar, kita perlu menganalisis kata per kata sebagaimana cara menganalisis kata per kata pada penulisan gelar dalam negeri. Sebagai misal, gelar doctor of philosophyyang ditulis benar [Ph.D.]. Huruf “P” ditulis dengan huruf besar, tetapi huruf “H” ditulis dengan huruf kecil, dan diakhiri dengan tanda titik. Huruf “H” ditulis dengan huruf kecil karena posisinya sebagai bagian dari rangkaian satu kata dengan huruf “P” yang merupakan kepanjangan dari kata philosophy, sedangkan huruf “D” ditulis dengan huruf besar sebagai singkatan dari kata doctor, dan diakhiri dengan tanda titik.
Perhatikan beberapa gelar doktor luar negeri yang sering kita jumpai di Indonesia, dan contoh penulisannya:
Ph.D. (Doctor of Philosophy);                      =>               Sigit Sugito, Ph.D.
Ed.D. (Doctor of Education);                       =>               Sigit Sugito, Ed.D.
Sc.D. (Doctor of Science);                          =>               Sigit Sugito, Sc.D.
Th.D. (Doctor of Theology);                       =>               Sigit Sugito, Th.D.
Pharm.D. (Doctor of Pharmacy);                  =>               Sigit Sugito, Pharm.D.
D.P.H. (Doctor of Public Health);                 =>               Sigit Sugito, D.P.H.
D.L.S. (Doctor of Library Science);               =>               Sigit Sugito, D.L.S.
D.M.D. (Doctor of Dental Medicince);           =>               Sigit Sugito, D.M.D.
J.S.D. (Doctor of Science of Jurisprudence). =>               Sigit Sugito, J.S.D., dsb.
Tambahan lagi, penulisan gelar ganda yang kedua gelar tersebut berada di belakang nama penyandang gelar, juga perlu memperhatikan teknik penulisan yang benar. Bahwasanya, selama ini kita sering menjumpai bahkan mungkin, menjadi pelaku sendiri penulisan gelar ganda yang tidak memperhatikan tata cara penulisan yang benar.
Tenik penulisan gelar ganda yang kedua-duanya berada di belakang nama penyandang gelar, banyak terkait dengan penggunaan tanda baca koma (,). Penulisan yang benar adalah setelah nama (penyandang gelar), dibubuhkan tanda koma (,) kemudian diikuti gelar yang pertama, ditulis dengan teknik penulisan yang benar, lalu dibubuhkan tanda koma untuk penulisan gelar yang kedua, dan seterusnya (jika ada gelar-gelar yang lain). Perhatikan beberapa contoh penulisan gelar ganda di bawah ini:
Endra Lesmana, S.Ag., S.H.
Endra Lesmana, S.Pd., S.S.
Endra Lesmana, S.Hum., S.Pd.I.
Jika penyandang gelar memiliki gelar lebih dari dua gelar, dan semuanya berada di belakang nama penyandang gelar, teknik penulisannya pun sama. Perhatikan pula beberapa contoh penulisan gelar yang lebih dari dua gelar di belakang nama penyandang gelar.
Imam Prasodjo, S.S., M.Hum., M.Pd.
Imam Prasodjo, S.Pd., S.S., M.Ed.
Imam Prasodjo, S.Ag., M.E.I., Ph.D.
Penulisan gelar dengan mengikuti nama penyandang gelar yang ditulis dengan huruf balok (kapital), gelar tetap ditulis sesuai dengan penulisan gelar yang benar. Jika gelar tersebut terdapat huruf peluncur sebagai bagian dari rangkaian satu kata, sebagai misal, gelar S.Ag., S.Pd., S.Pt., huruf g, d, dan t yang posisinya sebagai huruf peluncur dari rangkaian satu kata, tidak ditulis dengan huruf besar. Perhatikan beberapa contoh di bawah ini:
Ditulis Benar                          Ditulis Salah                       Juga Ditulis Salah
Hadi Mulya, S.Pd.                   HADI MULYA, S.PD.              HADI MULYA, S.Pd.
Hadi Mulya, S.Ag.                   HADI MULYA, S.AG.              HADI MULYA, S.Ag.
Hadi Mulya, S.Pt.                    HADI MULYA, S.PT.               HADI MULYA, S.Pt.
Di dalam aturan kebahasaan, nama orang tidak dibenarkan ditulis dengan huruf balok (kapital), kecuali untuk kepentingan tertentu. Jika ditulis, huruf balok (kapital) hanya dibenarkan ditulis pada awal kata nama orang. Karena itu, penulisan gelar dengan mengikuti nama penyandang gelar yang sama-sama ditulis menggunakan huruf balok, tidak hanya salah, tetapi sudah salah kaprah.

(dari berbagai sumber)
Ditulis oleh eMHa On 12:11 AM No comments Baca selengkapnya...

Wednesday, March 1, 2017

Cara Membuka Database Pada Aplikasi Microsoft Access Yang Sudah Jadi

Aplikasi pada Microsoft Access memang seringkali dikunci agar penggunanya terpaku pada tampilan muka yang sudah baku. Ada banyak orang yang mungkin asyik-asyik saja memakainya. Tapi, tahukah bahwa jika kita dikejar oleh tenggat waktu yang semakin mepet, maka cara menggunakan aplikasi semacam itu bakal membuang waktu?


Perlu diketahui, Microsoft Access merupakan saudara kandung dari keluaran Microsoft lainnya, seperti Microsoft Word, Excel, Publisher dan lainnya, sehingga ada kaitan-kaitan yang bisa saling dimanfaatkan satu dengan yang lainnya. Sebagai contoh, untuk memudahkan pengisian aplikasi pengolahan data Pendamping PKH di bawah ini, kita bisa menggunakan keterkaitan dengan aplikasi Microsoft Access dan Microsoft Excel.

Langsung saja, berikut caranya.

1. Buka saja seperti biasa file .mdb yang ada. Pastikan tampilannya sesuai petunjuk bakunya.


2. Klik menu File di pojok sebelah kiri layar komputer kita. Kemudian klik pula Privacy Option yang ada di bawahnya.


3. Setelah itu akan muncul jendela pop-up Access Option. Cari pilihan Current Database, dan centang pilihan Display Navigation Pane. Klik Oke.



4. Maka muncul pula pemberitahuan untuk menutup windows Microsoft Access yang sedang kita buka. Ikuti saja, karena tanpa ditutup, Display Navigation Pane itu tak akan memberi efek.


5. Buka lagi file .mdb yang kita punya. Lihat apa yang terjadi di sisi kiri monitor kita. Ya, ada Navigation Pane. Klik tanda dua panah (>>) yang berada di atas Navigation Pane tersebut. Nah, itulah database yang dipakai dalam aplikasi tersebut.


6. Sebenarnya banyak macamnya. Tapi untuk aplikasi yang sedang saya buka ini, database yang terkait dengan pekerjaan tersebut ada di Tabels >> KKS. Coba lihat ke sebelah kiri.


7. Klik di KKS, dan kita akan diarahkan pada tabel data yang ada pada panel muka pilihan pada aplikasi.


8. Copy data tersebut. CTRL+C saja. Dan pindahkan semuanya ke Microsoft Excel.


9. Setelah di Excel, tinggal filter saja datanya menurut pilihan yang sudah ditentukan, entah data meninggal, PKH aktif, maupun yang sudah mampu. Filter mereka dan jangan biarkan muncul di tampilan Excel tersebut. Ini yang nggak kepilih, ya.

10. Kalau sudah di filter, tinggal cari Pilih. Ini yang paling menentukan dari aplikasi ini. Isikan -1 untuk data yang dipilih. Nah, kalau di aplikasi, -1 ini yang dicentang. Kalau sudah di filter sih berarti data itu sudah kita pilih seluruhnya. Artinya tinggal tarik saja untuk menyalin -1 itu ke bawahnya.



11. Sebelum menyalin lagi ke database di Access, pastikan filter itu dikembalikan ke data semula. Jadi tak ada data yang difilter agar seluruhnya tersalin ke database aplikasi.

12. Saya mencontohkan ini untuk satu kecamatan yang berjumlah 3.659. Jadi saya kasih -1 seluruhnya :D. Ini contoh saja, jangan ditiru.


13. Setelah disalin ke database Access, lihat apa yang terjadi pada bidang ceklisan dan jumlah dibawahnya. Selesai, 'kan? Yuk tinggal simpan dan setorkan ke operator.

Silakan bandingkan, cepat mana antara diceklis, atau databasenya dibongkar dan cuma menyalin -1 ke data pilih seperti diatas.
Sumber : doel.web.id
Ditulis oleh eMHa On 9:28 PM No comments Baca selengkapnya...

Thursday, January 26, 2017

This summary is not available. Please click here to view the post.
Ditulis oleh eMHa On 12:12 AM No comments Baca selengkapnya...
  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube